Selasa, 07 Desember 2010

Ringkasan Tafsir Al Israa ayat 36 Tentang segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan yang kita lakukan akan dimintai pertanggung jawaban



Surah Al Isra:36

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al Isra:36)

Penjelasan

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya......."
Maksudnya, jangan mengikuti apa yang tidak kamu ketahui dan tidak penting bagimu. Jika kita memiliki pengetahuan, maka manusia boleh menetapkan suatu hukum berdasarkan pengetahuannya itu. (Tafsir Imam Qurthubi)

".......Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya"
Maksudnya masing-masing dari semua itu ditanya tentang apa yang dilakukannya. Hati ditanya tentang apa yang dia pikirkan dan dia yakini. Pendengaran dan penglihatan ditanya tentang apa yang dia lihat, dan pendengaran ditanya tentang apa yang ia dengar. Semua anggota tubuh akan diminta pertanggungjawaban di hari kiamat. (Tafsir Imam Qurthubi, Ibnu Katsir.)

Allah SWT melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi (Tafsir Ibnu Katsir)

"Dan janganlah kamu mengikuti (Al-qafwu, maknanya adalah al-ittiba' yaitu mengikuti) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang..."
Hikmah dari ayat ini adalah memberikan batasan-batasan hukuman, karena banyak kerusakan yang disebabkan oleh perkataan yang tanpa dasar. Janganlah kamu mengikuti perkataan dan perbuatan yang tidak kamu ketahui ilmunya, dan janganlah kamu mengucapkan aku melihat ini padahal aku mendengar ini padahal kamu tidak mendengarnya. Firmannya ,"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya"
Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya, karena Allah Ta'ala akan menanyakan anggota badan ini pada hari Kiamat tentang apa yang telah di ucapkan oleh pemiliknya atau yang dikerjakannya maka dia akan bersaksi dengan apa yang dia ucapkan atau yang dikerjakan dari perkataan dan perbuatan yang dilarang.
Haram berkata atau berbuat tanpa didasari oleh ilmu, karena dapat menyebabkan kerusakan. Dan Allah Ta'ala akan menanyakan seluruh anggota badan dan meminta persaksiannya pada hari Kiamat. (Tafsir Al Aisar)

Wallahua'lam

5 komentar:

  1. assalamu'alaikum...
    apa pendapat anda tentang ibadah tanpa dasar dan sumber yang tidak jelas, yang sekarang marak di tengah2 masyarakat khususnya indonesia seperti yasinan untuk orang mati tahlilan 7 malam berturut2 dan yang paling populer "maulidan" sedangkan Rasulullah saw tdk pernah mencontohkan semua itu.???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa’alaikumsalam.

      Pada dasarnya ibadah itu harus ada dalilnya. Baik berupa dalil Qur’an maupun Sunnah Nabi SAW. Ibadah yang dimaksudkan dalam hal ini adalah Ibadah Mahdhoh (ibadah utama) seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Sementara untuk ibadah sunnah, pada umumnya dalilnya sangat banyak ditemukan dalam hadits-hadits maupun dalam Qur’an itu sendiri.

      Sebagai contoh adalah dibawah ini saya kutip dari dalil Al Quran surah Al Hasyr (59) ayat 10 :

      10. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

      Artinya kita dianjurkan untuk mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita. Wujud doa tersebut sangat banyak, bisa melalui doa langsung, bisa dengan memberikan hadiah pahala bacaan Qur’an (dalam hal ini membaca surah Yasin, walaupun hal ini masih menjadi perdebatan diantara ulama)

      Untuk hal diatas bisa dibaca di tulisan saya untuk judul

      Apakah pahala yasinan sampai pada mayit

      Sama halnya dengan “maulidan”. Walaupun memang dijaman Rosul tidak ada hal tersebut, bukan berarti hal tersebut menjadi haram mutlak, maupun Bid’ah Dholalah.

      Yang perlu diperhatikan adalah bila dalam pelaksanaannya ada perbuatan yang melanggar norma-norma ajaran Islam, misalnya bercampurnya lelaki dan perempuan, melakukan maulidan yang mengganggu ketenangan orang lain (terutama di malam hari jam 10 malam, dimana jam tersebut sebagian orang perlu istirahat), membuat macet jalanan, dll, yang intinya mengganggu kegiatan orang lain dalam melaksanakan aktifitasnya (baik aktifitas harian maupun istirahat), maka hal tersebut yang menjadi “perlu diperhatikan alias ditertibkan” bukan mutlak terlarang.

      Demikian pendapat saya.

      Wallahua’lam bishowab..

      Hapus
    2. itu sama sekali ada dasarnyta bahkan hadis dhoifpun tdak ada bahwa org yg mninggal harus ada acara 7 hr 40hr dst mlah ternyata itu ada dikitab agama hindu kalau kurang yakin silahkan rujuk pd tman yg beragama hindu

      Hapus
    3. sotoy....belajar makanya biar pinter.

      Hapus
  2. @Nugie admaja, benar tahlilan secara khusus tidak dibahas dibahas dalam hadits shohih, namun biasanya kegiatan ini diambil dari keumuman hadits, tentang bacaan qur'an / ibadah yang dilakukan oleh seseorang dapat di berikan kepada orang lain. Dan memang hal ini masih permasalahan Khilafiyah. Selama Ulama-ulama yang berijtihad dalam hal ini sudah mengeluarkan fatwa, maka akan terlarang untuk orang-orang awam dalam mengomentari fatwa mereka, karena ilmu orang awam tidaklah sama dengan para ulama....
    Bagi yg berkomentar bahwa tahlilan adalah tradisi hindu...mungkin sudah banyak dibahas, bahwa ustadz abdul aziz berdusta dan sudah ditangkap oleh polisi. Mungkin link ini bisa menjelaskan...
    http://myquran.org/forum/index.php?topic=73346.0
    Wallahu a'lam

    BalasHapus