Minggu, 15 Mei 2011

Larangan menjelek-jelekan orang yang melakukan suatu dosa.

Assalamu’alaikum wr wb..

Berikuta ada kutipan kitab syarah Bulughul Maram karya Imam Abdullah bin Abdurrahman al Bassam.
Semoga bermanfaat,

Dari Mu'adz bin Jabal RA, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang menjelekkan saudaranya karena dosa yang ia perbuat, tidaklah isa meninggal hingga ia juga melakukan dosa yang sama." (HR. At-Tirmidzi) dan menilainya hasan, tetapi sanad hadits ini munqathi" (terputus).

Peringkat Hadits

Hadits ini hasan dengan adanya dalil-dalil lain yang menguatkannya.
Ibnu Hajar berkata: diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan menilainya hasan, tetapi sanad hadits ini munqathi'
Ash-Shan'ani berkata: At-Tirmidzi menilai hasan hadits ini, karena adanya dalil-dalil lain yang mendukungnya; maka sanad hadits ini yang munqathi tidak berpengaruh terhadap keabsahan dari hadits ini.
Hadits ini, dinilai hasan pula oleh As-Suyuthi di dalam Al Jami' Ash-Shagir Dan Al Manawi menyebutkan beberapa syahid bagi hadits ini, disertai dengan penjelasan akan kelemahan yang terdapat pada sanad hadits At-Tirmidzi. Dan di dalam sanad hadits ini terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Al Hasan bin Abu zaid. Abu Daud dan yang lainnya berkata: ia adalah seorang pendusta.

Hal-Hal Penting dari Hadits

1. Hadits ini berisi peringatan terhadap orang-orang yang mencela saudaranya karena sebuah dosa yang ia perbuat; karena seseorang itu tidaklah mencela kecuali terdorong oleh rasa ujub yang ada di dalam hatinya. Sedangkan sifat ujub itu timbul karena prasangka seseorang bahwa ia telah berhasil terhindar dari sebuah kejahatan karena kekuatan dan kehendaknya sendiri; bukan karena pertolongan dari Allah.

2. Barangsiapa yang mencela saudaranya kemudian hal itu menyebabkannya merasa ujub; niscaya ia tidak akan meninggal hingga iapun mengerjakan hal yang serupa. Yang demikian itu disebabkan karena ia tidak bertawakal kepada Allah untuk melindunginya dari kejahatan perbuatan itu, tetapi ia hanyalah semata-mata menyandarkan pada kemampuannya untuk menghindari perbuatan buruk tersebut, maka Allah pun menghinakannya hingga ia melakukan perbuatan yang sebelumnya telah dihina.

3. Diharamkannya mencela aib seseorang, sebagaimana hadits ini pula menunjukkan wajibnya untuk menyembunyikan aib mereka dengan menyibukkan diri terhadap aib sendiri. Maka sungguh beruntunglah orang-orang yang disibukkan oleh aibnya dari mengurusi, aib orang lain.

4. Telah disebutkan beberapa dalil lain yang berisi larangan untuk melakukan perbuatan ini, diantaranya: firman Allah Ta'ala, " Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih didunia dan diakhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," (Qs. An-Nuur: 19).

Watsilah bin Al Asqa`, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda,

"Janganlah engkau menampakkan kegembiraan di atas kesedihan saudaramu; yang akan menyebabkan Allah merahmatinya dan menimpakan kepadamu kesedihan saudaramu itu."

Hal ini disebabkan, karena menampakkan kegembiraan diatas kesedihan orang lain bukanlah merupakan akhlak dan kaum muslim yang mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.

Wallahua’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar