Rabu, 30 November 2011

Jagalah Lisanmu



Berikut ada hadits dari Rasulullah SAW yang sangat indah.



Ketika Rasulullah SAW di tanya tentang perbuatan yang menyebabkan masuk surga, Rasulullah SAW menjawab : “Bertaqwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Dan ketika ditanya tentang penyebab masuk neraka, Rasulullah SAW menjawab : “dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan” (HR. At Tirmidzy/1927)



Sungguh, ternyata yang dapat menyebabkan kita masuk ke neraka adalah (salah satunya) tidak menjaga kemaluan dan mulut.



Mungkin kita semua “bisa” dan akan sangat berusaha menjaga kemaluan kita, karena jelas-jelas ada ancaman bagi seseorang yang tidak menjaga kemaluannya dengan ancaman hukuman Zina (bila tidak menggunakan “kemaluannya” kepada istrinya saja/yang halal)



Namun yang sering kita lupakan adalah menjaga mulut ini. Begitu banyak kalimat / kata yang tidak bermanfaat, bahkan cenderung untuk menyakiti orang lain. Ada pepatah mengatakan “lidah tidak bertulang” sehingga kita dengan mudahnya mengucapkan kata, tanpa kita pikirkan akibatnya, baik untuk diri kita maupun orang lain.



Demikian hebatnya bahaya lisan hingga Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.



Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami istri yang saling mencintai dan saling menyayangipun bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.



Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda,



“Orang yang disebut muslim adalah orang yang bisa menjaga tangannya dan lisannya dari menyakiti muslim lain.” (HR Bukhari).



Kita seringkali menganggap remeh perkataan kita. Kita seringkali mengukur amal ibadah kita berkaitan dengan ibadah pribadi yang kita lakukan, baik berupa sholat, puasa, sedekah, bahkan hingga Haji. Namun kita sering lupa untuk memperhitungkan perkataan-perkataan kita yang kadang kala kasar, menyinggung hati orang lain, menyebut-nyebut pemberian, mengungkit-ngungkit masa lalu dsb. Kita lupa bahwa semua amal ibadah kita bisa hilang bahkan menjadi “minus” dikarenakan kita tidak menjaga perkataan kita.



Sungguh amat benarlah perkataan Rasulullah SAW, yang dalam kesempatan yang lain bersabda, “Inginkah kuberitahukan kepadamu penegak dari semua amalan itu?” aku (Muadz) menjawab, “Mau wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya seraya bersabda, “Tahanlah ini,” aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami betul-betul akan disiksa akibat ucapan kami?” beliau menjawab, “Kasihan kamu wahai Muadz, apakah ada yang menjerambabkan manusia di dalam neraka di atas wajah-wajah mereka kecuali buah dari ucapan lisan-lisan mereka?!” (HR. At-Tirmizi no. 2616 dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)



Sering kali kita menyebut-nyebut pemberian kita kepada orang lain, agar yang diberi “tau diri” atau “berterima kasih”. Seringkali kita “mencela keburukan/kekurangan” orang lain yang menyebabkan orang tersebut merasa terhina hingga sakit hati. Kita juga seringkali bersenda gurau, dengan merendahkan orang lain, agar mereka menjadi tertawa, sementara orang yang dijadikan objek senda gurau merasa terhina / malu. Bahkan seringkali dalam memarahi orang lain terlalu berlebihan, hingga sampai mencela kekurangan orang tersebut. Apalagi bila kita adalah seorang pemimpin di tempat kerja. Sungguh amat beratlah perkataan kita ini. Bila tidak menjaga lisan kita, salah-salah malah bisa membuat sakit hati 1 perusahaan yang terdiri dari banyak karyawan, disebabkan ucapan lisan yang tidak pada tempatnya / marah berlebihan, yang membuat sakit hati para bawahan kita.



Sungguh bila kita telah melakukan hal-hal diatas, sebaiknya mulai berhati-hati, bahkan mungkin harus segera meminta maaf kepada orang-orang yang kita sakiti secara lisan, hingga mendapat maaf dan ridho dari mereka. Sebab, bila mereka tidak ridho, maka ada baiknya kita harus benar-benar berdoa, dan memikirkan, agar kita tidak termasuk golongan orang yang bangkrut diakhirat dikarenakan ucapan kita.



Sesungguhnya Rosulullah SAW telah mengingatkan akan bahayanya orang Bangkrut. Yaitu orang-orang yang bangkrut di akhirat. Sebab, bila bangkrut di dunia, masih bisa berusaha, karena diberikan seluruh panca indera untuk melakukan usaha, serta masih ada waktu yang diberikan oleh Allah SWT untuk melakukan perbaikan, namun bila bangkrut di Akhirat, maka Nerakalah tempatnya.



Berikut hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat ) menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain ( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. (HR. Muslim.)



Sahabat,

Oleh karenanya, mulai saat ini, berlemah lembutlah dalam bertutur kata. Janganlah berbuat zhalim dengan menyakiti orang lain, baik denga lisan, maupun dengan perbuatan. Bila berbuat dosa kepada Allah, syarat untuk diterima tobatnya adalah dengan Meminta Ampun kepada Allah, dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Namun bila berbuat dosa kepada manusia, maka syaratnya selain meminta ampun kepada Allah, juga harus meminta maaf dan mendapat ridho dari orang yang kita zhalimi (kita sakiti dengan lisan/ perbuatan). Sesuai dengan hadits Rosulullah, “Barangsiapa disisi ada perbuatan dzalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dihalalkan ( dimaafkan ) sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau perak.sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kedzalimannya terhadap saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan saudaranya itu kepadanya”.(HR.Bukhari)



Boleh jadi amal ibadah kita banyak sekali…namun, boleh jadi pula kesalahan kita terhadap orang lain sangat banyak sekali. Mungkin kita sudah puluhan kali melakukan Umrah. Mungkin kita selalu melakukan puasa Senin-Kamis dengan tidak pernah putus. Mungkin kita selalu bersedekah dengan jumlah yang sangat banyak. Dan mungkin kita masih memiliki amalan-amalan sunnah lainnya yang tidak terhitung. Tapi apalah artinya bila semua amalah tersebut nantinya akan diambil dan diberikan kepada orang lain, bila memang kita tidak memiliki perangai dan ahlak yang bagus, tutur kata yang lemah lembut, selalu mengumbar perkataan yang menyakitkan hati saudaranya, dst.



Maka, mulai saat ini, marilah kita lebih menjaga dua lubang seperti yang disabdakan oleh kekasih kita Rosulullah SAW, yaitu lubang kemaluan dan lubang mulut, agar kelak bisa terhindar dari Panasnya Api Neraka.



Cukuplah hadits dibawah ini sebagai penutup, semoga kita semua bisa terhindar dari azab Allah SWT.



“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)



Ya Allah, lindungilah kami dari Azab neraka, dan perbaikiliah akhlak kami…Amin…



Wallahua’lam bishowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar