Senin, 03 Oktober 2011

Benarkah Kalimat Tauhid dapat Menjamin Surga untuk Kita


Abdullah, Waki' berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, sedangkan Ibnu Numair berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Barangsiapa meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka." Dan aku berkata, "Orang yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu (niscaya) masuk surga." (HR Muslim)

Benarkah Kalimat Tauhid dapat Menjamin Surga untuk kita?

Bila kita melihat statement diatas, seakan-akan orang  hanya cukup dengan bekal Tauhid saja tanpa memikirkan ibadah yang lain. Namun, bila kita telaah dan kita cermati lebih dalam, ternyata sungguh benar, bahwa Tauhid adalah Kunci Utama yang akan menyebabkan kita masuk  surga atau tidak. Mengapa demikian, berikut akan diberikan sedikit penjelasan, (diringkas dari banyak penjelasan) mengapa Tauhid adalah Kunci Utama yang membuat seseorang masuk surga atau tidak.

Ibn Abbas RA berkata, "Dikala Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Mu'adz RA ke negeri Yaman, Nabi SAW berpesan: "Wahai Mu'adz, engkau mendatangi kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dakwah pertama-tama yang engkau sampaikan adalah agar mereka mentauhidkan Allah ta'ala. Jika mereka telah sadar terhadap hal ini, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan lima shalat kepada mereka dalam sehari semalam. Jika mereka telah shalat, beritahulah mereka bahwa Allah mewajibkan zakat harta mereka, yang diambil dari yang kaya, dan diberikan kepada yang miskin, dan jika mereka telah mengikrarkan yang demikian, ambilah harta mereka dan jagalah harta mereka yang kesemuanya harus dijaga kehormatannya.” (HR Bukhari) 

Dalam hadits diatas jelas-jelas diceritakan dari Ibnu Abbas RA bahwa  Tugas Utama Mu’adz RA pertama-tama kali adalah menyampaikan TAUHID, baru kemudian setelah mereka menyadari betul, baru diikuti perintah lainnya.

Mengapa begitu? Karena TAUHID adalah Perintah Allah, dan Hak Allah dimana Allah tidak mau di sekutukan dengan selain NYA, sebagaimana tercantum dalam hadits dibawah ini,

Mu'adz bin Jabal RA berkata,"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai Mu'adz, tahukah kamu hak Allah atas hamba?" "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu, " Jawab Mu'adz RA. Nabi SAW bersabda lagi: "Yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Tahukah engkau apa hak mereka atas Allah?" tanya Nabi selanjutnya."Allah dan Rasul-Nya yang lebih lebih tahu." Jawab Mu'adz RA. Nabi SAW bersabda:"Yaitu agar Dia tidak menyiksa mereka." (HR Bukhari)

Itulah sebabnya mengapa Qur’an diturunkan pertama tama membahas tentang TAUHID (Meng esakan Allah). Selama 13 Tahun Qur’an diturunkan di Mekkah (dikenal dengan ayat-ayat Makkiyyah) ditekankan tentang masalah TAUHID ini (Bisa dilihat salah satunya dalam Surah Thuur, yang diturunkan pada periode di Mekkah)

Ayat-ayat Makkiyyah ini (Surah Makkiyyah) pada umumnya berisi tentang pemantapan atau penguatan tauhid dan akidah yang lurus, khususnya yang berkaitan dengan tauhid uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan, karena orang yang diajak bicaranya mayoritas mengingkari hal tersebut.

Sesungguhnya hal ini (Tauhid) juga sangatlah perlu untuk ditekankan dalam berda’wah maupun ibadah sehari-hari.  Kenapa demikian? Karena sesungguhnya dijaman yang  modern dan hedonis ini dimana segala sesuatunya diukur dengan banyaknya harta yang kita miliki, banyak para manusia telah “bergeser akidah Tauhidnya”. Banyak manusia yang beragama Islam, namun dalam praktek  sehari-harinya masih tercampur dengan Syirik-syirik, baik Syirik besar (dengan adanya  upacara-upacara selamatan seperti yang ada di Yogyakarta, Solo, Cirebon dan lainnya) maupun syirik kecil (mengagungkan sesuatu, seperti mengagungkan pekerjaan maupun harta/uang, sehingga terbersit dalam hati/yakin dalam hati, bahwa rejeki itu dari perusahaan “A” atau perusahaan “B”, bangga bekerja diperusahaan “A” atau perusahaan “B”)

Kita lupa bahwa sesungguhnya yang memberikan rezeki  itu adalah ALLAH, sedangkan perusahaan tempat kita bekerja adalah salah satu sarana  datangnya rejeki (bukan sebab  adanya rejeki tsb). Sehingga bila  kita harus “keluar” dari perusahaan tersebut,  bukan berarti Rezeki kita berhenti, karena rezeki  itu sesungguhnya dari Allah, sebagaimana tertulis  dalam ayat Al Qur’an,

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?" Katakanlah: "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Surah Saba’:24)

Sangatlah jelas, dalam ayat diatas, dikatakan bahwa yang member rejeki adalah ALLAH, namun  pada kenyataannya saat ini, bahwa banyak manusia “tergelincir” akidahnya dikarenakan “ketergantungannya” kepada “pekerjaanya” sebagai anggapan tempat asalnya rejeki itu.

Sebenarnya apakah syirik kecil itu? Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah juga menjelaskan, “Syirik kecil adalah semua bentuk perkataan maupun perbuatan yang bisa mengantarkan kepada syirik besar, seperti ghuluw (berlebih-lebihan dalam segala  perkara) dalam mengagungkan makhluq atau sesuatu yang tidak sampai beribadah kepadanya (Misalnya mengutamakan pekerjaan diatas segala-galanya, hingga rela meninggalkan sholat dan sejenisnya), bersumpah dengan nama selain Allah, riya’ yang ringan dan yang semisalnya.” (Al-Qoulus Sadid, hal. 24, lihat Al-Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah, 1/139)

Riya disebut syrik kecil karena hal itu tidak terlihat atau tersembunyi dan adanya dalam hati orang itu. Maka dalam hal ini hanya orang itu yang tahu dan Allah yang Maha Tahu tentang seseorang itu Riya atau tidak. Tapi pada hakikatnya menduakan Allah swt.

Dalam Hadits lain juga dijelaskan, 

Aku adalah orang yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang ia menyekutukan selain-ku bersama-Ku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya."(HR Muslim  dari Abi Hurairah RA)

Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik RA bahwa Nabi Allah SAW (dalam satu perjalanan), sedangkan Mu'adz bin Jabal RA dibonceng di atas kendaraan beliau, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu memanggil: "Wahai Mu'adz!" Mu'adz RA menyahut,"Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil lagi: "Wahai Mu'adz!" Aku menyahut lagi, "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah". Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memanggil: "Wahai Mu'adz!" Aku menyahut lagi, "Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "Barangsiapa yang mengucap dua Kalimah Syahadat yaitu: tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya niscaya dia selamat dari api Neraka." Kemudian Mu'adz RA berkata,"Bolehkah aku memberitahu perkara ini kepada manusia agar mereka sebarkan berita gembira ini?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kalau (berbuat) begitu, maka mereka akan bersandar dengannya." Lalu Mu'adz menyebarkan kabar tersebut menjelang kematiannya khawatir menanggung salah (karena menyembunyikan hadits)." (HR Muslim)

Sesungguhnya esensi dari Hadits diatas sangatlah dalam. Bahwa bila kita sudah meyakini tentang ajaran TAUHID ini, maka kemudian kita pastinya akan menjalankan ke 4 rukun selanjutnya (dalam rukun Islam, dimana rukun Islam yang pertama adalah tentang TAUHID)

Sangatlah tidak mungkin bila kita sudah meyakini bahwa ALLAH adalah satu-satunya zat yang perlu kita sembah, namun kita tidak mau beribadah kepadaNYA sebagai tanda Syukur atas pemberian  NYA dan janji NYA  akan surga kepada kita sesuai dengan hadits-hadits yang ada.

Oleh  karenanya, marilah kita Memurnikan TAUHID kita terlebih dahulu, dimana dijaman yang “modern”  ini, keyakinan kita sangatlah mudah tergeser dengan gemerlapnya kehidupan dunia, yang akan bisa menyebabkan kita  masuk kedalam neraka (atau bisa di cuci dosa kita dineraka dikarenakan TAUHID kita tidak sempurna, yang lamanya 1 hari di neraka sama dengan 1000 tahun di dunia…Naudzubillah min dzalik)

Demikianlah, sebabnya mengapa TAUHID adalah KUNCI UTAMA yang menyebabkan kita masuk surga.

Catatan :

Dari Ash Shunabihi dari Ubadah bin Ash Shamit bahwasanya dia berkata; Saya mengunjungi Ubadah bin ash Shamit yang sedangkan berada di (ambang) kematian, aku pun menangis, maka dia berkata; 'Tahan dulu perlahan, kenapa kamu menangis? Demi Allah, jika aku mati syahid, niscaya aku bersaksi untukmu, dan jika aku diberi syafaat yang dikabulkan, niscaya aku memberikan syafaat untukmu, dan jika aku mampu, niscaya aku memberikan manfaat untukmu'. Kemudian dia berkata; 'Demi Allah, tidaklah ada hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang ada kebaikannya bagi kalian, melainkan aku telah menceritakannya kepada kalian kecuali satu hadits, namun sekarang aku akan menceritakannya kepada kalian, dan sungguh aku telah mendekati ajalku. Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah niscaya Allah mengharamkan neraka atasnya.\" Dan dalam hadits bab tersebut juga diriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Jabir, Ibnu Umar, dan Zaid bin Khalid. Dia berkata; saya mendengar Ibnu Abi Umar berkata, saya mendengar Ibnu Uyainah berkata, Muhammad bin 'Ajlan adalah seorang yang tsiqah terpercaya dalam hadits. Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan shahih gharib dari jalur sanad ini. Sedangkan ash Shunabihi adalah Abdurrahman bin Usailah Abu Abdullah, dan telah diriwayatkan dari az Zuhri bahwasanya dia ditanya tentang sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: \"Barangsiapa yang mengucapkan; 'Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah' niscaya dia masuk surga.' Maka dia menjelaskan; 'Hadits ini adalah pada awal Islam sebelum turunnya ibadah Fardhu, perintah dan larangan.' Abu Isa berkata; 'segi pendalilan dari hadits ini menurut sebagian ahli ilmu bahwa ahli tauhid akan masuk surga, walaupun mereka diadzab di neraka disebabkan dosa mereka, namun mereka tidak kekal di neraka. Dan telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Dzar, Imran bin Hushain, Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Abu Sa'id al Khudri, dan Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: \"Akan keluar sejumlah kaum dari manusia dari golongan ahli tauhid, dan masuk surga.\" Demikianlah diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, Ibrahim an Nakha'i, dan tidak hanya satu orang dari kalangan tabi'in dalam menafsirkan ayat ini; 'Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.' (QS. 15: 2) ' Mereka memberikan penafsiran; 'Apabila ahli tauhid dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka berkeinginanlah orang-orang kafir bahwa seandainya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim'. (HR Muslim)

Wallahua’alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar