Rabu, 06 Oktober 2010

Tafsir surah al baqarah ayat 8 dan 9 tentang Sifat Orang Munafik







“Diantara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,” padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman (QS 2:8) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya (QS 2:9)

Ayat diatas membahas tentang orang orang munafik, sifat orang munafik, neraka orang munafik dan bagaimana kita menghindar dari orang munafik, bahwa orang munafik sesungguhnya tidak dapat menipu Allah, mereka menyangka telah menipu Allah, padahal mereka menipu diri mereka sendiri, dan lain-lain berkaitan dengan munafik.

Untuk lebih jelasnya berikut ringkasan penjelasan dari beberapa muffassirin.

Ringkasan Tafsir Al Qurthubi.

Ayat 8.


Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Empat ayat dari surah Al Baqarah turun kepada orang-orang yang beriman, dua ayat tentang sifat orang-orang kafir, dan tiga belas pada orang-orang munafik”

Ulama kita –semoga Allah merahmati mereka- berkata,

“Orang yang beriman itu ada dua : orang yang beriman yang dicintai Allah juga dibimbing-Nya, dan orang yang beriman yang tidak dicintai Allah juga tidak dibimbing-Nya, justru dibenci dan dimusuhi-Nya. Setiap orang yang Allah ketahui bahwa dia memilih keimanan maka Allah mencintai, membimbing dan meridhainya, dan setiap orang yang Allah ketahui bahwa dia memilih kekufuran maka Allah benci, murka dan memusuhinya. Bukan karena keimanannya, akan tetapi karena kekufuran dan kesesatan yang dipilihnya.

Orang kafir pun ada dua : orang kafir yang pasti disiksa, dan orang kafir yang tidak disiksa. Orang kafir yang disiksa adalah orang yang menetapi kekufuran. Oleh karena itulah Allah murka dan memusuhinya. Sedangkan orang kafir yang tidak disiksa adalah orang yang memilih keimanan. Allah tidak murka terhadap orang ini, bahkan Dia cinta dan akan membimbingnya. Bukan karena kekufurannya, akan tetapi karena keimanan yang dipilihnya.

Berdasarkan hal diatas maka tidak boleh mengatakan perkataan berikut :

Orang yang beriman pasti mendapatkan pahala dan orang kafir pasti mendapatkan siksa. Akan tetapi wajib mengiringi perkataan itu dengan, “Jika dia memilih dan menetapinya.” Karena itu kami pun berkata, “Sesungguhnya Allah ridha kepada Umar ketika dia masih menyembah berhala dan dia ingin mendapatkan pahala juga untuk masuk surga. Bukan karena penyembahannya kepada berhala, akan tetapi karena keimanan yang dipilihnya. Sebaliknya, Allah murka kepada Iblis ketika dia menyembah Nya, karena kekufuran yang dipilihnya.

Bukti kebenaran pendapat ini adalah kesepakatan umat bahwa Allah tidak senang kepada orang yang Dia ketahui termasuk ahli neraka, bahkan Dia murka terhadapnya, dan dia dengan kepada orang yang Dia ketahui termasuk ahli surga.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung pada akhirnya” (HR Bukhari).

Imam Qurthubi berkata, “Hal ini sama seperti yang termaktub dalam Shahih Muslim dan lainnya dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata,

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian diawali penciptaannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari. Kemudian selama itu jug amenjadi segumpal darah. Kemudian selama itu juga menjadi segumpal daging. Kemudian Allah mengirim seorang malaikat, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya. Malaikat itu juga diperintahkan dengan empat kalimat, yakni menetapkan rezeki, ajal dan amalnya, serta celaka atau bahagia. Demi Dzat yang tidak ada tuhan melainkan Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amal ahli surga hinggga tidak ada jarak antaranya dan surga kecuali satu hasta, namun ketentuan telah mendahuluinya, maka diapun beramal dengan amal ahli neraka, lalu diapun masuk ke dalam neraka. Sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amal ahli neraka hingga tidak ada jarak antaranya dan neraka kecuali satu hasta, namun ketentuan telah mendahuluinya, maka diapun beramal dengan amal ahli surga, lalu diapun masuk ke dalam surga” (HR Muslim)

Para ulama bahasa berkata, “Orang munafik disebut munaafiq, karena menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada dalam hatinya. Sama seperti rayap yang merusak bagian dalam kayu. Bagian luarnya bagus, padahal bagian dalamnya kosong melompong. Begitulah orang munafik, luarnya iman namun batinnya kufur.

Ayat 9

“Mereka hendak menipu Allah” artinya mereka merusak iman dan amal mereka dengan riya. Seperti inilah salah satu tafsir ayat diatas dari nabi. “Mereka bermaksud riya dihadapan manusia” (QS An Nisaa 4:142)

Firman Allah SWT “Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri” maksudnya tidaklah menimpa akibat penipuan itu kecuali pada mereka sendiri. Kata mutiara Arab mengatakan, “Barangsiapa menipu orang yang tidak pernah menipu maka sebenarnya dia menipu dirinya sendiri”.

Firman Allah SWT, “sedang mereka tidak sadar” maksudnya, mereka tidak menyadari bahwa akibat tipuan mereka kembali kepada diri mereka sendiri.

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir.


Makna NIFAQ (Kemunafikan)

Nifaq adalah menampakkan kebaikan dan menyembunyikan keburukan.

Nifaq ada beberapa macam.

Pertama, nifaq I’tiqadi (dalam keyakinan), yang menjadikan pelakunya kekal di Neraka.

Kedua, nifaq ‘amali (berupa perbuatan) yang merupakan salah satu dosa besar, sebagaimana akan dirinci pada pembahasan khusus insya Allah.

Ibnu Juraij berpendapat bahwa orang munafik itu senantiasa bertentangan antara ucapan dan perbuatannya, antara yang tersembunyi dan yang nyata, serta antara zhahir dan yang bathin. (Tafsir Ath Thabari)

Ayat 8.


Firman Allah, “Diantara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir’ padahal mereka itu bukan orang-orang yang beriman”. Allah SWT mengingatkan sifat-sifat orang-orang munafik agar kaum mukminin tidak terpedaya oleh penampilan mereka, karena kelengahan dalam hal ini akan mendatangkan bahaya yang besar, jika tidak berhati-hati terhadap mereka. Jangan sampai kaum mukminin beri’tiqad bahwa orang-orang munafik itu beriman, padahal sebenarnya mereka kafir. Mereka mengucapkan pengakuan itu tanpa bukti yang nyata, sebagaimana firman Nya: “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, seraya berkata, ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. ‘ Maka Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya” (QS Al Munafiquun:1)

Firman Allah “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman” dengan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran, hal ini terjadi karena kebodohan mereka. Mereka menyangka Pertama, telah menipu Allah dengan ucapan itu. Kedua, mengira bahwa ucapan itu bermanfaat di sisi Allah. Ketiga, menganggap bahwa perkataan mereka itu akan laris diterima, sebagaimana pernyataan mereka itu sempat diterima oleh sebagian kaum muslimin.

Ayat 9


FIrman Allah, “Ingatlah hari ketiak mereka semua dibangkitkan oleh Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang-orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka adalah para pendusta (QS Al-Mujaadilah: 18)

Tiga sangkaan itu dibalas oleh Allah SWT dengan firman Nya, “Padahal mereka hanya menipu dir sendiri sedang mereka tidak menyadarinya: (QS Al Baqarah:9).

Dengan tindakan itu mereka hanya menipu diri mereka sendiri karena mereka tidak menyadarinya sebagaiman firmanNya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka” (QS An-Nissa:142)

Tentang ayat 8 dan 9 ini Sa’id telah meriwayatkan dari Qatadah bahwa sebagian dari sifat-sifat orang munafik yang sangat banyak adalah ahlaknya tercela, membenarkan dengan lisan tetapi mengingkarinya dengan hati serta bertentangan dengan perbuatan. Pada pagi hari ia berada dalam suatu keadaan tetapi disore hari ia berada dalam keadaan lain. Sore hari dalam suatu keadaan dan pada pagi harinya pun berubah, seperti bergoyangnya kapal yang ditiup angina, kemana angina bertiup ke situlah ia mengarah.

Tafsir Fathul Qadir

Ayat 8 dan 9


Diawal surah ini Allah SWT menyebutkan tentang orang-orang beriman yang murni, kemudian setelah mereka, Allah menyebutkan tentang orang-orang kafir murni, kemudian kelompok ketiga Allah menyebutkan tentang orang-orang munaifk, yaitu mereka tidak termasuk kedua golongan tadi, tapi mereka menjadi golongan yang ketiga, karena secara lahir mereka adalah golongan yang pertama (orang-orang beriman), sedangkan secara batin mereka adalah golongan yang kedua (orang-orang kafir), dan karena itu mereka menjadi penghuni neraka yang paling bawah.

Firman Allah, “padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri” maksudnya adalah pemberitahuan bahwa ketika mereka menipu Dzat yang tidak dapat ditipu, sebenarnya mereka itu sedang menipu diri mereka sendiri.

Yang dimaksud dengan ‘menipu diri mereka sendiri’ adalah bahwa mereka dibuai oleh angan-angan batil, sehingga begitulah angan-angan itu membuai mereka.

Tafsir As Sa'di.

Ayat 8 dan 9.


Kenifakan (kemunafikan) ada 2, yaitu kenifakkan i'tiqad dan kenifakan perbuatan. Kenifakan i'tiqad telah dijelaskan diatas pada penjelasan sebelumnya (tafsir Ibnu Katsir), adapun kenifakan perbuatan seperti yang disebut oleh Nabi SAW dalam sabdanya.."Tanda-tanda munafiq itu ada 3, apabila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mengingkarinya, dan bila diberikan amanat dia berkhianat" (HR Bukhari, Muslim).

Wallahua'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar