Sabtu, 23 Oktober 2010

Ringkasan tafsir Ash Shaff ayat 2 dan 3 Tentang Murkanya Allah terhadap kaum yang Mengatakan sesuatu, tetapi tidak mau mengaplikasikannya terhadap Diri Sendiri



Ringkasan Tafsir surah As Shaff, ayat 2 dan 3 dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Qurthubi



Surah As Shaff



"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (As Shaff:2-3)

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir..



Ini merupakan pengingkaran Allah terhadap orang yang membuat janji atau mengatakan sesuatu dan tidak melaksanakannya, Oleh karena itu diantara ulama salaf ada yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa memenuhi janji itu wajib secara mutlak, baik janji tersebut mengakibatkan hukuman bagi yang berjanji, ataupun tidak.l Mereka juga beralasan dengan hadits yang tercatat dalam ash-Shahiihain, dimana Rasulullah SAW telah bersabda, "Tanda-tanda orang munafik itu tiga, : bila berjanji dia ingkar, bila berkata dia dusta, dan bila dipercaya dia khianat"



Dalam hadits lain disebutkan, "Ada empat perkara yang apabila (semuanya) ada pada diri seseorang, maka ia menjadi munafiq tulen. Dan barang siapa salah satunya ada padanya, maka (dikatakan) ia memiliki satu ciri dari orang munafiq, hingga dia meninggalkannya" (HR. Muttaffaq alaih)



Diantara para ulama ada juga yang berkata, "Ayat in diturunkan berkenaan dengan peperangan. Seorang laki-laki mengatakan bahwa dirinya telah berperang, padahal dia tidak melakukannya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah menikam musuh, padahal ia tidak melakukannya. Ia katakan bahwa dirinya telah bersabar tetapi dia tidak melakukannya."



Kita lihat, saat ini banyak manusia sering untuk menyuruh yang ma'ruf maupun meninggalkan yang munkar, namun mereka sendiri tidak melaksanakan apa yang mereka perintahkan/anjurkan. Misalnya banyak para pemimpin (baik politik, perusahaan, dll) mengatakan, marilah kita bekerja sama memberantas korupsi..namun seringkali mereka yang menganjurkan untuk memberantas korupsi.juga terlibat dalam korupsi.. Ada juga anjuran dilarang untuk mencuri,..namun justru merekalah yang malah mencuri..



Semoga kita terlindung dari kemurkaan Allah dan terhindar dari sifat Munafiq...Amin...



Ringkasan Tafsir Al Qurthubi.



Asbabun nuzul ayat , Abdullah bin Salam berkata, "Sekelompok sahabat Rasulullah SAW mempersilahkan kami mampir, kemudian kami berdiskusi. Kami berkata, 'Seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling disukai oleh Allah Ta'ala, niscaya kami akan mengerjakannya. 'Allah Ta'ala kemudian menurunkan ayat ini...."Telah Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan......."dst sampai akhir ayat ke 3.'



Qatadah dan Adh-Dhahak berkata, "Ayat ini turun pada kaum yang berkata, 'Kami akan berjihad dan kami akan mati.' Namun mereka tidak melakukan (hal itu)



Ayat ini mewajibkan semua orang yang telah mewajibkan dirinya mengerjakan sebuah amalan ketaatan, bahwa dia harus memenuhi hal itu.



Sesuatu yang diwajibkan seperti Nadzar :



Nadzar ini sendiri ada dua bagian :



1. Nadzar untuk mendekatkan diri kepada Allah sejak awal,, seperti ucapan seseorang : Aku akan menunaikan shalat, puasa, sedekah, dan berbagai bentuk pendekatan diri lainnya kepada Allah. Nadzar seperti ini wajib untuk dipenuhi. Hal ini telah disepakati oleh para ulama.



2. Nadzar Mubah, yaitu nadzar yang dikaitkan kepada syarat yang diinginkan, misalnya ucapan seseorang ; Jika milikku yang hilang kembai, aku akan bersedekah. Atau dikaitkan pada syarat yang ditakuti, misalnya ucapan seseorang : Jika Allah memelihara aku dari keburukan anu, maka aku akan bersedekah. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini (Bentuk nadzar ke dua)



Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat bahwa dia wajib memenuhi nadzar tersebut. Sementara Imam Syafi'i mengatakan pada salah satu pendapatnya, bahwa dia tidak wajib memenuhi nadzar tersebut.



Namun keumuman ayat ini merupakan hujjah yang memperkuat pendapat kami (Imam Qurthubi) sebab ayat ini secara absolut mengecam orang yang mengatakan sesuatu, namun dia tidak melakukannya, apapun itu bentuknya, baik yang mutlak ataupun yang dibatasi oleh syarat.



An-Nakha'i berkata, "Ada 3 ayat yang menghalangiku untuk menyampaikan riwayat kepada orang-orang (Pertama Firman Allah Ta'ala), 'Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri' (QS. Albaqarah: 44). (Kedua, Firman Allah Ta'ala) Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang (QS Hud:88) (Ketiga, Firman Allah) Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan (QS Ash Shaff:3)



Abu Nu'aim Al Hafizh meriwayatkan dari hadits Malik bin Dinar, bahwa Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Aku mendatangi suatu kaum pada malam Isra' yang lidahnya digunting dengan gunting api. Setiap kali lidahnya digunting, maka panjang kembali lidah itu. Aku bertanya (kepada malaikat Jibril), "Siapakah mereka, wahai Jibril? "Jibril menjawab, "Mereka adalah para khatib dari ummatmu yang mengatakan (sesuatu) namun mereka tidak mengerjakan(nya) dan mereka membaca kitab Allah namun mereka tidak mengamalkan(nya) (HR Ibnu Abi Daud dalam Al Mashahif, HR Baihaqi dalam Syu'ab Al Iman dan As Suyuthi dalam Al Jami' Al Kabir)



Firman Allah Ta'ala, "Kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" Firman Allah tersebut merupakan sebuah Pertanyaan (Istifhaam) yang mengandung makna pengingkaran dan cemoohan. Sebab manusia mengatakan (memerintahkan) kepada kebaikan, padahal dia sendiri tidak mengerjakannya. Sufyan bin Uyainah menakwilkan ayat diatas sbb "Kenapakah kalian mengatakan sesuatu yang tidak diperintahkan kepada kalian, sehingga kalian tidak tahu apakah kalian boleh mengerjakan atau tidak boleh mengerjakan.



FIrman Allah Ta'ala "Amat besar kebencian Allah di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" Firman Allah Ta'ala diatas merupakan dalil tentang diwajibkannya memenuhi/menepati (apa yang dikatakan) dalam keadaan tertekan dan marah, menurut salah satu dari pendapat Asy-Syafi'i.



Wallahua'lam..

4 komentar:

  1. minta izin share....
    jazakallahu khoir, bagus sekali... :)

    BalasHapus
  2. info penting,,,,terimakasih atas infonya

    BalasHapus